Perihal Ditinggalkan
Tuan, sebagaimana pertemuan yang mestinya ada perpisahan, aku selalu siap dengan perpisahan itu. Tapi sungguh, kali ini aku tidak siap dengan perpisahan tersebut, aku tidak siap jika kau tinggalkan, ㅡ masalahnya tuan, kali ini perpisahan kita abadi.
Tuan, nampaknya Tuhan lebih sayang dengan dirimu, jadi mau tak mau aku harus mengalah dengan-Nya, merelakanmu menuju sisi-Nya, ku doakan saja yang baik-baik dari bumi.
Dua tahun lalu, kita berpisah dengan tidak baik-baik, aku dengan lantangnya mengusirmu dari sampingku, dua tahun juga kamu tidak kunjung pergi dari hatiku.
Pada dua tahun itu, hatiku sering kali berganti pemilik, aku singgah kesana kemari, namun sejujurnya, tak ada yang sesungguh dirimu. Tuan, percayalah, dirimu selalu menduduki ruang sempit di hatiku, mentertawakanku karena aku tak bisa mengusirmu dari sana.
"Bagaimana? Sudahkah kau menemukan pengganti ku? Sesungguhnya aku berpikir bahwa aku tidak bisa digantikan oleh siapapun." Katamu dengan nada angkuh, kau tetap berdiri di pojok hatiku, tak beranjak satu senti. Sebenarnya, ya memang, tak ada yang bisa menggantikan posisi dirimu.
Perihal mengikhlaskan adalah yang tersulit dalam kepergian, tuan. Semoga kau bahagia di sisi-Nya.
Ah sial, lagi-lagi kau membuatku menangis, ini yang ke-empat kalinya pada hari ini. Sudah tuan, sampai disini dulu, aku tak mau larut dalam kesedihan.


Komentar
Posting Komentar